Ketika Manusia Menghilang dari Atas Bumi
Resensi buku Alan Weisman “Dunia Tanpa Manusia” dimuat di GEOMAGZ Majalah Geologi Populer, Badan Geologi, Vol.1 No.1

Data Buku:
Judul : Dunia Tanpa Manusia
Pengarang : Alan Weisman
Penerbit : Gramedia
Tahun Terbit : 2009
Tebal : 430 halaman
Judul Asli : The World Without Us
Tahun Terbit : 2007
Bumi ini mungkin bukan planet yang sama seandainya manusia tidak beranak-pinak. Demikian salah satu kalimat pada bab pembuka buku “Dunia Tanpa Manusia” (The World Without Us) yang dikarang oleh wartawan Amerika, Alan Weisman. Ia berandai-andai, jika manusia tiba-tiba menghilang meninggalkan seluruh peradabannya di Bumi ini secara tiba-tiba dan bersama-sama, apa yang akan terjadi pada Bumi yang ditinggalkannya?
Weisman tergelitik untuk menulis buku itu ketika seorang editor Discover Magazine, Josie Glausiusz, terinspirasi karya tulisnya tentang pulihnya lingkungan setelah kaburnya orang-orang dari Chernobyl. Weisman kemudian memulai riset panjang untuk memujudkan bukunya itu. Banyak ilmuwan dihubunginya. Bahkan ia beberapa kali ikut terlibat riset dengan para ahli atau ilmuwan tersebut.
Sebanyak 225 makalah dari berbagai tema telah dilahapnya, dan 86 buku menjadi acuannya. Tema-temanya sangat luas tersebar dari berbagai bidang ilmu, mulai dari Geologi, Geografi, Biologi, Kimia, Fisika, Statistik, Teknik Sipil, Ekologi, Lingkungan, Sosial, Budaya, Politik, Sejarah, bahkan Agama, dan lain sebagainya.
Dari beberapa kasus yang dipikirkannya, di antaranya adalah bagaimana peran besar manusia dalam membangun Terusan Panama, yang menghubungkan Lautan Pasifik dengan Atlantik, dan menjadi urat nadi ekonomi Amerika Serikat. Terusan yang memanfaatkan sistem hidrolik untuk melintasi perbukitan di tanah genting Panama itu, tanpa campur tangan manusia akan mudah putus dan hancur. Proses-proses longsor, banjir dan erosi akan dengan segera menyatukan kembali Amerika bagian utara dan selatan, jika manusia lalai merawatnya.
Sesuai dengan risetnya yang luas, banyak kasus lingkungan lainnya menjadi perhatiannya. Contohnya peristiwa di suatu malam yang masih sangat dingin di Chernobyl, Uni Sovyet saat itu, April 1986, ketika kelalaian operator mengakibatkan meledaknya salah satu reaktor nuklir, menyemburkan awan radioaktif yang menjadi bencana bagi kota kecil dan sebagian wilayah Ukraina. Setelah itu Chernobyl menjadi kota mati. Namun pada musim semi tahun berikutnya, kehidupan seakan-akan mulai pulih. Burung-burung berdatangan dan bersarang. Tumbuhan menghijau kembali.
Begitu pula bagaimana suatu daerah demiliterisasi antara Korea Utara dan Selatan yang merupakan ladang ranjau, justru menjadi kawasan ekologis yang lengkap dengan kehidupan liarnya setelah perang berakhir 1953. Atau suatu kawasan wisata di Siprus yang kembali menjadi liar dengan cepat setelah perubahan lingkungan laut menjadikan kawasan tersebut ditinggalkan para wisatawan. Weisman juga membayangkan apa yang terjadi ketika pompa-pompa air berhenti bekerja di New York. Saluran-saluran kereta api bawah tanah akan segera dibanjiri air laut, dan dalam sekejap New York akan kembali menjadi daerah rawa-rawa seperti pada awalnya.
Banyak lagi contoh yang Weisman kemukakan di bukunya setebal 430 halaman edisi Indonesia terbitan Gramedia (2009), seperti pengaruh pertanian, ladang-ladang minyak, tempat pembuangan sampah nuklir, pulau sampah plastik di tengah-tengah Samudera Pasifik, terjaganya hutan asli Eropa di Polandia, paradoks kehidupan liar di Afrika, atau misteri punahnya suku Maya di Amerika Tengah. Ia juga membahas bagaimana sejarah Bumi ketika bangsa manusia belum muncul menguasai kehidupan. Sayangnya, kalimatnya cenderung panjang-panjang sehingga agak melelahkan untuk menamatkan buku tebal ini.
Namun, buku ini dapat menjadi seperti ilustrasi suatu teori yang telah dikenalkan pada 1979 oleh James Lovelock pada bukunya “Gaia: A New Look at Life on Earth.” Teori Gaia Lovelock menyatakan bahwa Bumi sangat dinamis sehingga apapun proses perubahan atau kerusakan yang terjadi padanya, Bumi akan memulihkan dirinya sendiri.
Teori Gaia yang bukunya diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Bumi yang Hidup, Pandangan Baru Kehidupan di Bumi” (Penerbit Obor, 1988) pernah diinterpretasikan secara gegabah oleh salah seorang ahli Geologi Indonesia, bahwa kita dapat melakukan eksploitasi habis-habisan terhadap sumber daya Bumi. Toh dengan menyimak teori itu, Bumi akan pulih dengan sendirinya. Ia mungkin lupa bahwa produk-produk geologis berjalan secara evolutif.
Benar Bumi akan dapat pulih dengan sendirinya, tetapi diperlukan waktu puluhan ribu hingga ratusan juta tahun. Selama masa pemulihan itu, manusia yang hidup dalam rentang waktu yang sangat pendek, akan menjadi korban pertama.

Alan Weisman adalah mantan editor di Los Angeles Times Magazine. Ia seorang wartawan yang menulis di antaranya untuk Harper’s, The New York Times Magazines, The Atlantic Monthly, dan Discover. Melalui tulisannya di Discover edisi Februari 2005 “Earth Without People” ia terpilih mendapatkan penghargaan Best American Science Writing 2006 yang kemudian ia perluas menjadi buku “The World Without Us” yang terbit pada 2007.
(Budi Brahmantyo, FITB, ITB).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar