The Last of d’Kabayans*
Hari ini, 23 Desember 2011, berita duka datang dari posting wartawan Kompas Didiet: Aom Kusman telah wafat tadi subuh pkl. O4 WIB. Ialah yang terakhir dari grup lawak Bandung yang terkenal di tahun 1980-an, d’Kabayans. Aom Kusman, the last of d’Kabayans, berpulang juga dipanggil Sang Pencipta. Innalillahi wa’inna ilaihi ro’jiun. Allohumagfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT.
Wafatnya Aom Kusman menyusul sahabatnya Kang Ibing yang meninggal pada 19 Agustus 2010 menjadikan grup lawak tersebut telah ditinggalkan semua anggotanya. Anggota lain Ujang (yang biasa berperan sebagai Eti), Sofyan Hargono (berperan sebagai orang Jawa) dan Suryana Fatah yang selalu berperan sebagai orang Cina Babah Holiang, telah jauh mendahului Kang Ibing dan Aom Kusman.

D'Kabayans (foto diunduh dari usepsaepurohman.blogspot.com)
Grup lawak d’Kabayans yang sangat Sunda menjadi penyegar dari grup-grup lawak yang umumnya orang-orang Jawa, yang bergiliran muncul di TVRI, satu-satunya stasiun televisi yang ada pada tahun 1980-an itu. Grup ini tidak kalah lucunya dengan grup-grup lawak terkenal saat itu seperti Bagio Group (Bagio, Diran, Darto Helm, Sol Saleh), Kwartet Jaya (Bing Slamet, Eddy Sud, Ateng, Iskak), Surya Grup (Karjo AC/DC dkk), atau Jayakarta Group (Jojon, Cahyono, U’u, Johnni) yang selalu ditunggu-tunggu pemirsa televisi.
D’Kabayans dibentuk oleh dua sahabat Aom Kusman dan Kang Ibing saat keduanya selalu menghibur remaja jomblo yang tidak punya acara apel di malam minggu melalui siaran di Radio Mara. “Di sini Radio Mara, di sana radio batur…” itulah yang selalu diucapkan Kang Ibing dalam siarannya (terjemah: di sini Radio Mara, di sana radio orang lain). Celetukan-celetukan yang akhirnya menjadi ucapan sehari-hari sering muncul dari siaran dua pelawak ini seperti “teu puguh ceng,” atau “dalam rangka pupujieun.” Materi lawakannya yang kadang-kadang rada porno (khas lawakan Sunda) sering diceritakan ulang di antara para pendengarnya. Misalnya kisah Haji Sebling yang kenikmatan mempermainkan alat vitalnya ke dalam botol hingga berbunyi “sbling” tapi ketahuan anak nakal, atau kisah janda muda yang teriak-teriak minta tolong karena dikejar-kejar harimau, tapi teriakan terakhirnya malah menjadi mendesah. Cerita lain misalnya tentang dua orang yang tidak saling kenal tapi sok akrab memanggil Udin dan Aceng yang akhirnya memunculkan gimmick “teu puguh ceng” tersebut.
Selain di malam minggu menemani mereka yang belum punya pacar, keduanya juga mempunyai jatah siaran di malam Jumat. Lawakan malam Jumat biasanya diselingi cerita-cerita hantu.
Hari ini, d’Kabayans betul-betul berakhir setelah wafatnya Aom Kusman. Bagi mereka yang lahir setelah 1980-an pasti tidak mengenalnya, tapi bagi bapak-bapak dan ibu-ibu sekarang yang pernah muda di tahun 1980-an, terutama di Bandung, siaran Radio Mara atau acara lawak di TVRI menjadi nostalgia yang berkesan. Dari tema lawakan yang paling berkesan adalah usaha Kang Ibing mencari “gadis jujur” yang malah mendapatkan Eti (Ujang) yang mungkin jujur tapi berwajah jelek. Monolog mas Sastro (Sofyan Hargono) sampai sekarang masih terasa lucu ketika menceritakan kesuksesan anak-anaknya dalam logat Jawa-nya: yang pertama di ngangkatan udara, yang kedua di ngangkatan laut, yang ketiga perempuan… ngublag! Tentu saja sentilan-sentilan kondisi sosial selalu dimunculkan oleh grup lawak ini walaupun bersifat umum dan sangat hati-hati karena begitu represifnya pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Salah ucap sedikit bakal bubar.
*judul terinspirasi dari judul novel “The Last of the Mohicans” karya James Fenimore Cooper (1826) yang difilmkan pada 1992 dengan pemeran utama Daniel Day-Lewis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar